Langsung ke konten utama

lebih dari 365 hari



Sudah lebih dari 365 hari kita mengarungi samudera yang berbeda, tetapi, bayangmu masih saja melekat dalam benakku . Kali ini, aku tidak bercerita cinta yang indah. Tidak lagi bercerita tetang raut wajah yang sumringah yang disebabkan perasaan tak terdefinisi itu; cinta. Tapi kali ini, aku akan bercerita tentang luka.
Sudah lebih dari 365 hari, kamu berada disisinya. Kalian tampak bahagia berdua, sementara aku masih saja berusaha untuk melupakan cerita tentang kita. Lagi-lagi ada sepercik rasa dendam yang memenuhi relung-relung hatiku. Kisah-kisah kita seperti terulang lagi, dalam otak ku kenangan akan setiap peristiwa masih jelas terekam.
Menyakitkan adalah ketika aku melihat kamu tertawa, tapi bukan akulah yang menyebakan tawa itu ada. Harus ku akui aku sangat iri padamu, kamu dengan mudahnya melupakan semua tentang kita sementara aku sampai detik masih saja tak mampu menghilangkan bayangmu dari otakku meski hanya secuil!
Aku masih ingat dengan jelas hari itu, hari dimana kamu meninggalkan aku. Hei tuan, tak taukah kau saat ini aku sedang cinta-cintanya padamu! Lalu mengapa kau tega menghempaskan aku hingga aku jatuh, terluka, dan sulit untuk bangkit lagi? Aku menapaki jalan gelap perlahan, mencoba mencari-cari dimana salahku padamu dalam perenungan.
Dan kini, setelah lebih dari 365 hari, aku sudah sangat paham. Ternyata, dahulu, kamu memang tak pernah mencintaiku.


K♥

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lagi, tentang kamu (yang kini mulai ku tempatkan di sudut hatiku yang terdalam)

Lagi, tentang kamu. Kalau kau mau aku bercerita dengan sangat jujur, sejak mengenalmu aku tak peduli bagaimana orang menilai mu.sejak itu, aku tak tau ada faktor yang entah dinamakan apa,   yang membuatku tak ingin meninggalkan ponsel barang sedetikpun. Kamu tentu tidak tau rasanya, perasaan ini begitu sulit untuk ku deskripsikan, sayang. Kamu tentu tidak tahu bagaimana rasanya jadi aku, jadi orang yang sulit bernafas ketika tak ada kabar darimu. Kamu juga tentu tidak akan pernah tahu, betapa rasanya setiap malam aku selalu tersenyum saat membaca ulang pesan singkat darimu. percakapan-percakapan bodoh kit a di penghujung malam, dan selera humormu yang selalu menjadi alasan senyumku sebelum beranjak memejamkan mata.  Ah sepertinya kini kamu telah membajak otakku. Entahlah, tapi aku mulai merasa setiap sel diotakku seperti diisi oleh KAMU. Kamu yang selalu hadir di benakku dengan bentuk dan rupa yang berbeda. Kamu sangat menggangguku, tuan! bahkan sahabatku p...

Kapan semuanya berakhir ?

Jujur hari ini penuh banget stress hidup gue. Gue gak ngerti kenapa akhirnya gue ditakdirkan ketemu keluarga yang toxic. Ibu, abang, ipar.. semuanya gak beres. Melihat drama yang gak udah-udah, gue dikucilkan berkali-kali di rumah, tanpa dukungan siapapun. Gak heran dulu ketika skripsian gue sampe bela-belain ke psikolog. Gue bingung sama diri gue sendiri, kenapa sekarang gue justru gak seceria dulu lagi? makin lama makin parah. Gue berusaha menjadi orang idealis yang punya prinsip bahwa hidup itu harus mandiri, bila belum bisa membahagiakan orang tua, minimal jangan nyusahin lalu ketemu orang-orang yang punya pemikiran ngawur. Ini bertentangan dengan prinsip yang gue anut. Hari ini kucing gue hilang, gatau kemana. Dan, yah, gue pikir pasti ini dibuang lagi. Ini bukan kejadian pertama. Bagi orang lain kucing itu mungkin cuma hewan, tapi bagi gue mereka kayak pelipur lara. Setidaknya saat orang mengucilkan gue, gue punya teman buat diajak bicara. Melepas kesepian gue yang benar-benar bi...

Akhirnya Saya Harus Pergi

Kali ini saya gak akan menceritakan tentang luka. Karena bagi saya semua derita itu sudah usai. meskipun lukanya belum kering dengan sempurna, setidaknya saya gak ma u lagi untuk membuka luka lama. Belajar dari yang sudah terjadi kemarin, saya jadi menyadari satu hal penting.   jangan pernah memberi harapan atau menaruh harap kepada selain Allah, Tuhan yang maha esa. Mungkin bisa dibilang saya sudah phobia akan rasa kecewa yang berlebih. Saya gak mau kejadian bodoh seperti kemarin terulang.   Biarlah saya saat ini perlahan-lahan menjauhi dia. Bukan bemaksud untuk membenci dan memutuskan tali persaudaraan. Hanya saja, saya fikir, saya memerlukan waktu yang mungkin tidak sebentar untuk menghapus rasa yang gak seharusnya bercokol dihati saya. Saya perlu waktu untuk menyendiri, saya ingin menjernihkan fikiran agar dapat melihat segalanya dengan rasional, bukan dengan perasaan. Sebab itu, saat ini saya sedang pada  memperbaiki diri. Kalau boleh saya ibaratkan, se...